www.smkn1saptosari.sch.id (GUNUNGKIDUL). Menjaga kelestarian alam bukan sekadar tugas pemerintah atau lembaga konservasi. Generasi muda juga memiliki peran penting untuk memastikan keanekaragaman hayati tetap terjaga. Semangat itulah yang dibawa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta melalui Resort KSDA Wilayah Gunung Kidul dalam kegiatan “Conservation Goes to School” di SMKN 1 Saptosari, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Sasana Amarta SKATUSA tersebut diikuti oleh perwakilan siswa yang tergabung sebagai kader Adiwiyata. Program ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat dunia konservasi sekaligus memahami bahwa aksi menjaga alam dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari.
Kepala Resort KSDA Wilayah Gunung Kidul, Tugimayanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada SMKN 1 Saptosari yang telah membuka ruang kolaborasi untuk edukasi konservasi bagi generasi muda.
Ia mengajak para siswa tidak berhenti pada pemahaman yang diperoleh selama sosialisasi, tetapi mulai membangun kepedulian dan mengambil peran nyata dalam menjaga alam.
“Terima kasih kepada SMKN 1 Saptosari yang telah menerima dan mendukung kegiatan Conservation Goes to School. Anak-anak muda adalah generasi penerus. Karena itu, mari kita lebih peduli terhadap alam, khususnya hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita,” ujar Tugimayanto.

Ia juga mendorong para siswa untuk berani mengambil peran sebagai pejuang pelestari alam Indonesia. Menurutnya, konservasi tidak harus selalu dimulai dengan langkah besar. Kepedulian dapat tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekitar.
Kegiatan sosialisasi diawali dengan pengenalan mengenai Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta dan Resort Konservasi Sumber Daya Alam Suaka Margasatwa Paliyan. Para siswa kemudian mendapatkan materi mengenai konservasi, termasuk pengenalan native species kawasan karst Gunung Sewu.
Materi tersebut menjadi penting bagi siswa untuk memahami bahwa Gunungkidul memiliki karakteristik ekosistem dan kekayaan hayati yang perlu dijaga. Dalam materi program, siswa juga diajak melihat dirinya bukan sebagai penonton, melainkan sebagai kekuatan nyata dalam gerakan konservasi.
Pelajar dapat berperan sebagai agen perubahan, citizen scientist, kreator konten hijau, maupun pelaku aksi nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Konservasi juga tidak berdiri sendiri. Kelestarian lingkungan memiliki hubungan erat dengan kehidupan dan kesehatan manusia. Hal tersebut sejalan dengan pendekatan One Health yang sebelumnya juga ditekankan BKSDA Yogyakarta dalam pelaksanaan program Conservation Goes to School.

Sosialisasi tidak berhenti pada penyampaian materi. Sebagai tindak lanjut, para peserta akan terlibat dalam enam program Conservation Goes to School.
Pertama, Riset & Citizen Science, melalui kegiatan pendataan potensi keanekaragaman hayati yang ditemukan di sekitar wilayah Gunungkidul, termasuk satwa dan tumbuhan native karst. Data tersebut nantinya diarahkan menjadi basis data keanekaragaman hayati Gunungkidul.
Kedua, Kampanye Digital, yakni membuat konten kreatif bertema lingkungan dan konservasi sesuai karakter wilayah sekolah.
Ketiga, Eco Culture, berupa gerakan pembibitan tanaman native karst dan tanaman buah sekaligus pemantauan perkembangan tanaman. Keempat, Rooted Wisdom, yaitu menggali kearifan lokal masyarakat dalam menjaga lingkungan dan sumber daya alam.
Kelima, Human Experience, yang mengajak siswa memotret kehidupan masyarakat dan alam di sekitarnya melalui karya dokumenter. Keenam, Green Innovation, berupa pengembangan ide maupun produk inovasi berbasis lingkungan.
Keenam program tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan riset, komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, sekaligus kolaborasi. Program Conservation Goes to School juga dirancang agar siswa menghasilkan portofolio nyata melalui aksi konservasi yang mereka lakukan.

Kepala SMKN 1 Saptosari menyambut baik kolaborasi bersama BKSDA Yogyakarta tersebut. Menurutnya, edukasi konservasi memiliki relevansi kuat dengan upaya sekolah membangun karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan.
Keterlibatan kader Adiwiyata dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas gerakan kepedulian lingkungan di sekolah. Siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu melakukan riset, menghasilkan karya, mengkampanyekan isu lingkungan, serta menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Melalui kolaborasi tersebut, SMKN 1 Saptosari tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sosialisasi konservasi, tetapi diharapkan menjadi salah satu ruang tumbuh bagi generasi muda yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan keberanian untuk mengambil aksi nyata bagi lingkungan.
Sebab, sebagaimana pesan dalam program Conservation Goes to School, perubahan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, dari sekolah, dan dari kepedulian terhadap alam yang ada di sekitar.
Dari SKATUSA, semangat menjadi pejuang pelestarian alam Indonesia dimulai.
Tim Publikasi SMKN 1 Saptosari.
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!